Selasa, 08 September 2015

RENUNGAN UNTUK KITA SEMUA



-- Assalamualaikum wr.wb. --

-- Pada saatnya nanti engkau mati, janganlah engkau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum kaum muslimin akan mengurus jasadmu.

-- Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu, dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.

-- Akan ada banyak orang yang mengantarkan jenazahmu, bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaannya untuk ikut menguburkanmu.

-- Semua barang-barangmu akan dikemasi, kunci-kuncimu, kitab-kitabmu, kopermu, sepatumu, pakaianmu, dan lain-lainnya. Jika keluargamu setuju, barang-barang itu akan disedekahkan agar bermanfaat untukmu.

-- Yakinlah, dunia dan alam semesta ini tidak akan bersedih dengan kepergianmu.

-- Ekonomi akan tetap berlangsung. Posisi pekerjaanmu akan diisi oleh orang lain. Harta bendamu menjadi harta halal bagi ahli warismu. Sedangkan kamu yang akan dihisab dan diperhitungkan untuk mempertanggungjawabkan dari mana hartamu!

-- Mungkin, kesedihan atasmu ada 3 :
1. Orang yang mengenalmu sekilas akan mengatakan, kasihan.
2. Kawan-kawanmu akan bersedih beberapa  jam,  atau  beberapa  hari,  lalu  mereka kembali seperti sediakala dan tertawa tawa.
3. Di rumahmu ada kesedihan yg mendalam. Keluargamu akan bersedih seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, dan mungkin hingga setahun?Selanjutnya mereka meletakkanmu dalam arsip kenangan!

-- Demikianlah "Kisahmu ditengah-tengah manusia telah berakhir". Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, di Akhirat !

-- Telah musnah kemuliaan, harta, kesehatan, keluarga, dan yang lainnya. Telah engkau tinggalkan rumah, istana, dan istri tercinta. Kini hidup yg sesungguhnya telah dimulai.

-- Pertanyaannya adalah : Apa persiapanmu untuk kubur dan Akhiratmu ? Hakikatnya inilah yang memerlukan perenungan.

-- Maka sebelum maut menjemput, usahakan dengan sungguh-sungguh : menjalankan kewajiban-kewajiban, hal-hal yang disunnahkan, sedekah rahasia, merahasiakan amal shalih, shalat malam, dan amal ibadah lainnya.

-- Semoga saja engkau selamat.

-- Wassalamualaikum wr.wb. --

-- (Tulisan terbaik Syekh Ali Thanthawi Mesir Rahimahumullah) --

Minggu, 06 September 2015

MAKNA TEMBANG "LIR-ILIR"



Tembang “LIR-ILIR” ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk melakukan dakwah menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Makna tembang ini adalah sebagai berikut :

-- Lir ilir, lir ilir : bangunlah atau bisa diartikan sebagai sadarlah, kita diminta bangun dari keterpurukan, dari sifat malas,  untuk mempertebal keimanan kepada ALLAH SWT .

-- TANDURE WUS SUMILIR : yang digambarkan dengan tanaman yang mulai tumbuh dan bersemi.

-- TAK IJO ROYO-ROYO : tanaman itu menjadi menghijau, semua itu tergantung pada diri kita apakah mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati, atau bangun dan terus berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan.

-- TAK SENGGUH TEMANTEN ANYAR : seperti bahagianya pengantin baru.

-- Cah angon, cah angon : kita digambarkan sebagai anak gembala, untuk meng-gembalakan "HATI", bisakah kita menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang sedemikian kuatnya.

-- PENEKNO BLIMBING KUWI : si anak gembala diminta untuk memanjat pohon belimbing, yang notabene buah belimbing itu bergerigi lima, dalam hal ini sebagai gambaran dari Lima Rukun Islam.

-- LUNYU-LUNYU PENEKNO : pohon belimbing itu memang licin dan meskipun dalam keadaan susah untuk melaksanakannya, kita harus bisa memanjatnya sekuat tenaga, artinya kita harus tetap berusaha menjalankan Rukun Islam apapun halangan dan resikonya.

-- KANGGO MBASUH DODOTIRO  : semua ini berguna untuk mencuci pakaian kita, pakaian itu ibarat taqwa dan pakaian taqwa ini lah yang harus selalu dibersihkan.

-- DODOTIRO, DODOTIRO : pakaian taqwa kita memang harus di bersihkan, yang jelek-jelek harus kita singkirkan dan kita tinggalkan.

-- KUMITIR BEDAH ING PINGGIR : namun sebagai manusia biasa pakaian taqwa itu terkadang rusak atau terkoyak.

-- DONDOMONO, JLUMATONO : sehingga perlu perbaikan, menjahitnya dan dibenahi kembali agar menjadi pakaian yang indah, karena sebaik-baiknya pakaian adalah pakaian taqwa.

-- KANGGO SEBO MENGKO SORE : untuk menghadapi nanti sore, mempunyai makna bahwa suatu saat kita semua pasti akan mati, karena itu kita selalu diminta untuk memperbaiki pakaian taqwa kita, agar kelak kita siap ketika dipanggil menghadap kehadirat ALLAH SWT.

-- MUMPUNG PADHANG REMBULANE, MUMPUNG JEMBAR KALANGANE : selagi terang rembulannya dan banyak waktu luang, artinya ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, dan ketika masih banyak kesempatan karena masih diberi umur maka pergunakanlah waktu dan kesempatan itu untuk bisa  memperbaiki diri agar senantiasa selalu bertaqwa kepada ALLAH SWT.

-- YO SURAKO, SURAK IYO : bersoraklah dengan sorakan iya untuk menyambut seruan ini. Jika ada yang mengingatkan, maka jawablah dengan "Iya".

-- Sumber : Anonim --

Sabtu, 05 September 2015

PERIBAHASA JAWA



Ada 12 peribahasa Jawa yang apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan sangat bagus untuk membangun kedamaian hidup. Ke 12 peribahasa Jawa tersebut adalah sebagai berikut :

1. URIP IKU URUP
[Hidup itu nyala, hendaknya dalam mengarungi hidup ini kita dapat bermanfaat bagi orang lain di sekitar kita].

2. MEMAYU HAYUNING BAWANA, AMBRASTA DUR HANGKARA
[Harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan (termasuk kelestarian lingkungan), serta memberantas / menghilangkan sifat angkara murka, serakah dan tamak].

3. SURA DIRA JAYA JAYANINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI
[Segala sifat keras hati, picik, dan angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar].

4. NGLURUK TANPA BALA, MENANG TANPA NGASORAKE, SEKTI TANPA AJI-AJI, SUGIH TANPA BANDHA
[Berjuang tanpa perlu membawa/memanfaatkan massa, menang tanpa merendahkan / mempermalukan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan / kekuatan / kekayaan / keturunan, kaya bukan hanya kaya yang bersifat materi].

5. DATAN SERIK LAMUN KETAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KELANGAN
[Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, jangan terlalu sedih hati manakala kehilangan sesuatu].

6. AJA GUMUNAN, AJA GETUNAN, AJA KAGETAN, AJA ALEMAN
[Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut dengan sesuatu kejadian, jangan kolokan atau manja].

7. AJA KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN, LAN KEMAREMAN
[Janganlah terobsesi atau terkungkung dengan kedudukan, materi dan kepuasan duniawi].

8. AJA KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, AJA CIDRA MUNDAK CILAKA
[Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka].

9. AJA MILIK BARANG KANG MELOK, AJA MANGRO MUNDAK KENDHO
[Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, dan indah, dan jangan berfikir gamang / plin-plan agar tidak mengendorkan niat dan semangat].

10. AJA ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
[Jangan merasa paling kuasa, paling besar / kaya, paling sakti / berguna].

11. ALANG ALANG DUDU ALING ALING , MARGINING KAUTAMAN
(Persoalan-persoalan dalam kehidupan bukan penghambat, melainkan jalan menuju kesempurnaan].

12. SOPO WERUH ING PANUJU, SASAT SUGIH PAGER WESI
(Dalam kehidupan ini siapa yang punya cita-cita luhur, jalan hidupnya seakan tertuntun).

-- Sumber : Anonim -- 

Jumat, 04 September 2015

TEMBANG KEHIDUPAN



Mari kita simak sedikit kebudayaan Jawa, yang merupakan bagian dari kearifan lokal, yaitu Tembang Jawa. Ternyata rangkaian tembang-tembang Jawa menggambarkan suatu siklus perjalanan hidup manusia, suatu rangkaian Tembang Kehidupan sebagai berikut : 

(1) Mas Kumambang. Dimulai dengan tembang Mas Kumambang, yang oleh sebagian orang Jawa dianalogikan dengan Emas yang Kumambang, yaitu diartikan sebagai Janin (Emas) yang ada (mengambang) di dalam perut ibu. 

(2) Mijil. Artinya muncul, dimaksudkan bagaikan munculnya seorang bayi dari goa garba ibunda, yaitu ketika sang jabang bayi dilahirkan. 

(3) Kinanti. Setelah lahir, setiap bayi akan dibawa (dikanti) kemana-mana oleh ayah bundanya, digendong kesana-kemari. 

(4) Sinom. Sing-enom (yang muda). Nama tembang ini  sebagai  simbol  dari  kehidupan  masa  remaja seseorang, menjadi Nom-noman (orang enom-orang muda). 

(5) Asmarandana. Dari kata-katanya sudah bisa ditebak, bahwa tembang ini ada hubungannya dengan soal asmara. Tembang ini diumpamakan tahap para muda-mudi yang mulai terkena panah asmara. 

(6) Gambuh. Ketika telah terjadi kecocokan, maka dua orang muda-mudi akan mengikatkan dirinya dalam sebuah perkawinan. Gambuh ini diartikan mirip dengan kata dalam bahasa Jawa "Jumbuh", yang artinya cocok. 

(7) Dandang Gula. Setelah memasuki masa perkawinan, pasangan muda akan mulai dengan manisnya kehidupan berumah tangga. Mereka mendandang Gula, memasak Gula yang rasanya manis. 

(8) Durma. Dengan semakin mapannya kehidupan rumah tangga, setiap keluarga akan lebih mampu melaksanakan darmanya kepada sesama dengan memberikan derma dalam bentuk apapun dalam rangkaian melaksanakan perintah Tuhan. 

(9) Pangkur. Semakin lama, setiap manusia tentu saja akan sampai kepada fase usia lanjut, secara pelan-pelan akan mungkur (mundur) dari dunia ramai, pensiun. 

(10) Megatruh. Semua manusia punya batas usia, untuk kemudian kembali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, meninggal dunia. Megatruh dapat diurai menjadi dua kata, yaitu “megat” dan “ruh”, megat berasal dari kata pegat (putus) dan ruh (nyawa). 

(11) Pucung. Terakhir, manusia yang sudah mati, akan dibungkus dengan kain mori putih, yang oleh orang Jawa disebut pocong, mendekati kata pucung.

Semua urutan tembang kehidupan tersebut diatas, ada yang sudah, sedang dan akan kita lalui. Mari kita jalani seluruh rangkaian proses itu dengan sabar dan tawakal, dengan tidak lupa mengisinya untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

-- Sumber : Anonim --

Senin, 15 Desember 2014

CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI